Evakuasi Warisan Peradaban

Mereka nampak kusut, basah, warna sampul mulai pudar. Semua akibat air hujan. Merembes dari sela-sela lantai, menetes dari atap yang bocor, merendam tiap jengkal kisah inspiratif, lembar-lembar cerita sarat makna.

Selama ini mereka berlindung di dalam tiga peti plastik besar, container box, empat tas travel, menyesaki satu bufet karbot setinggi 1,8 meter. Kurang lebih seribu judul. Mereka telah menjadi pengikut setia sedari 2006.

Selama itu mereka juga berhasil rampungkan sejumlah tugas besar, menyumbang benih pemikiran, gagasan kritis, dan ide-ide kreatif. Mereka adalah sekumpulan ingatan hidup yang siap membantu setiap saat.

Malam tahun baru Cina, mereka nampak muram. Tak bermakna. Diam-diam rasa bersalah menyusup, sesakkan dada. Merasa tak tahu diri, tak tahu terimakasih. Tak bersyukur. Tak beruntung. Tak ...

Sebisa mungkin segera melindungi mereka. Ingin menemani, menjaga jangan sampai tercerai berai. Menjaga teman seperjuangan.

Tak sampai hati meringkas dalam kardus bekas. Tapi tindakan penyelamatan, evakuasi harus dilakukan. Jika tidak, sesuatu yang buruk bakal terjadi. Takut.

Sampai larut malam, sampai pagi menjelang memindahkan satu persatu dari tempat lembab ke wadah yang lebih kering, bersih. Sementara 14 kardus ukuran sedang menjadi rumah singgah.

Evakuasi belum usai. Tak ada air mata. Tapi tangisannya menyayat tiap kalbu yang peka.

Kadang menggenggamya, rasanya seperti menjabat tangan orang tua sendiri. Mengendapkan petuah bijak yang datang melalui imajinasi. Tanpa sepatah kata, tuntunan datang menjadi penerang hidup, penyelamat di saat krisis.

Berdoa, kelak di tempat tinggal mereka yang baru, di ujung wetan pulau Jawa, tak lagi terlunta seperti saat ini. Malam imlek kelam, tak ada yang bisa dirayakan.

Kampanye intelektual belum usai. Masih banyak tugas besar yang mesti ditunaikan. Generasi penerus pun telah lahir, siap menyongsong warisan peradaban. Seribu judul muliakan kehidupan. Kini dan nanti.

Sulit rasanya membayar hutang kepada mereka,  pengarang-pengarang hebat yang tak mungkin terlahir kembali. Kecuali melalui pemikiran, imaji, dan tekat. Menjaga api agar terus menyala. Ya, ini adalah perjuangan, perlawanan, pertentangan yang tak pernah usai.

Hanya butuh satu langkah untuk hidupkan mereka lagi. Buka halaman pertama, kedua, dan masuk lebih dalam. Rawatlah mereka baik-baik kelak mereka akan tersenyum padamu. []

Sesaat di Griminawa

Beberapa hari menelusuri pinggir Sentani yang damai, dari Waena menuju kampung-kampung Lembah Griminawa. Jajaran bukit telah papras oleh mesin-mesin pembelah batu. Tak jarang badan jalan dipenuhi batu-batu kecil dan besar. Beberapa lokasi batu-batu sengaja dikumpulkan, disusun dari ukuran yang paling kecil sampai paling besar. Mirip lapak di pasar.
Mobil yang kutumpangi berjalan lambat-lambat saat melintasi bukit, perengan yang papras itu. Sebelah kiri Danau Sentani terpampang megah. Begitu tenang dan dalam. Rumah-rumah terapung di pinggir danau. Keramba-keramba ikan di sekitar kediaman penduduk terlihat tak terawat.

Keadilan Plato (427-347 SM)


Keadilan adalah harmoni atau keselarasan”.

Filsafat Yunani mulai berkembang pada abad keenam sebelum masehi. Kala itu alam (kosmos) lebih mendominasi kajian para filsuf Yunani. Misalnya Thales menganggap segala kejadian dan perubahan berdasar pada prinsip air, Anaximenes menganggap udara yang utama, atau Anaximandros yang menganggap kedua unsur alam itu terlalu konkrit, yang akhirnya membuatnya memilih prinsip “yang tak terbatas”.
Di tangan Plato, filsafat Yunani berhasil menapaki elan baru. Bukan lagi gejala-gejala kosmos (dunia) yang menjadi sorotan tunggal, namun filsafat beralih melihat manusia sebagai pusat. Bertitik tolak pada manusia, Plato membagi jiwa atas tiga fungsi: keinginan (epithymia), bagian yang enerjik (thymos), dan rasional (logos) sebagai puncak. Plato berpikiran jika manusia berhasil mengelola keinginan dan energi di bawah kendali rasio, maka akan muncul manusia-manusia yang harmonis dan adil.