Sedia Pangan Sebelum Krisis


Beberapa waktu lalu, masyarakat sempat dihebohkan melambungnya harga bawang akibat ulah importir nakal. Kelangkaan bahan pangan di pasar berdampak langsung pada kehidupan rakyat kecil. Kebijakan impor bahan pangan yang kelewat liberal tanpa proteksi, menyebabkan komunitas produsen pangan berskala kecil kelimpungan, sekarat.
Kran impor yang dibuka lebar telah menggerus produksi pangan dalam negeri. Petani sebagai salah satu produsen pangan telah lama tergantung dengan pasokan sarana produksi impor. Misalnya bibit unggul, pupuk kimia, pestisida, dan berbagai perangkat pertanian moderen. Akibatnya, sistem pertanian di Indonesia boros input.
Sedari revolusi hijau sampai sekarang, petani kenyang dicekoki doktrin pertanian moderen yang menempatkan mereka sebagai konsumen semata. Metode pertanian berkelanjutan yang memosisikan petani sebagai ahli kerap dipandang sebelah mata, meski kenyataannya petani telah berkontribusi dalam menjaga keberagaman plasmanutfah dan keseimbangan ekosistem.

Air


Air tak kunjung surut. Hujan semalam membuat gang di depan kosan digenangi air setinggi lutut orang dewasa. Selokan mampat, tak mampu lagi menampung tumpahan air hujan akhirnya meluber ke jalan. Banjir. Genangan air nampak menghitam memenuhi mulut gang sampai jauh ke arah pasar. Semua orang yang nekat melintasinya mesti berbasah-basah, menjinjing sepatu, sendal, melipat celana panjang sampai dengkul melintasi aspal yang tenggelam.

awal yang baik



Sekitar 23 pegiat LSM seluruh Indonesia melakukan pelatihan penyusunan program dan penulisan proposal, Logical Framework Approach, di Jakarta (Selasa, 19/06). Sedianya pelatihan berlangsung sampai Jumat siang. Hari pertama (Senin, 18/06), kegiatan dimulai dengan perkenalan dan kontrak belajar. Hari kedua, peserta kegiatan mulai dengan materi analisis internal dan internal, mencoba melihat situasi dan kondisi dalam organisasi yang berdampak pada kerja-kerja organisasi. Kemudian melihat kecenderungan politik, ekonomi, sosial, budaya, dan hukum yang bakal terjadi tiga tahun ke depan, yang memengaruhi kerja-kerja LSM. 
Kegiatan dituanrumahi oleh Konsil LSM Indonesia. Ada yang menarik dari kegiatan pelatihan kali ini. Biasanya LSM identik dengan biaya dan fasilitas dari donor, apalagi soal pelatihan, “semua terbiasa untuk terimajadi, tinggal berangkat,” Ujar Lusi Herlina, Direktur Konsil. Pelatihan empat hari dilakukan dengan biaya masing-masing peserta. Memang ada peserta yang disubsidi penuh, namun rata-rata semua membiayai dirinya sendiri. Awal yang baik di tengah krisis donasi yang dialami banyak LSM di Indonesia.